Pertanyaan :
Pak Gubernur, sejauh mana upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan swasembada gula 2013? (Indra, Cilacap)
Jawab :
Terima kasih Saudara Indra. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus bertekad untuk dapat mewujudkan swasembada gula pada 2013 mendatang. Langkah efektif yang sedang dan terus dilakukan, antara lain, melakukan revitalisasi pabrik gula dan pembangunan pabrik gula baru, memperluas lahan untuk pengembangan tanaman tebu (ekstensfikasi), serta mendorong peran aktif masyarakat untuk menanam tebu.
Swasembada gula diartikan sebagai tercukupinya gula berbasis tebu minimal 90 persen dari kebutuhan konsumsi seluruh masyarakat di Jawa Tengah.
Kunci swasembada gula untuk tingkat nasional adalah jika tidak ada lagi impor gula. Sementara, di tingkat Jawa Tengah, swasembada gula tercapai jika tebu di Jawa Tengah mencukupi target total produksi sekitar 5 juta ton, sehingga dengan asumsi rendemen delapan persen, dapat dihasilkan gula tebu sebanyak 400.000 ton atau telah memenuhi kebutuhan gula masyarakat. Perhitungannya, jika penduduk Jawa Tengah 2013 diasumsikan berjumlah 37 juta jiwa dengan konsumsi gula perkapita = 12 kg/ tahun (sesuai rata- rata nasional), maka kebutuhan swasembada gula tebu = 0,9 x 12 kg x 37 juta = + 400.000 ton gula.
Untuk mewujudkan swasembada gula Jawa Tengah 2013, ada empat kunci yang mendukung keberhasilan, yaitu, stabilitas harga yang menguntungkan petani, hubungan yang harmonis antara petani dan pabrik gula, penataan varietas dan penggunaan benih bermutu dan penerapan teknis budidaya sesuai standar, serta revitalisasi pabrik dengan mengganti mesin yang telah rusak. Strategi yang harus ditempuh adalah mengedepankan harmonisasi dan sinergi pabrik gula, APTRI, KPTRI, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pabrikan sarana produksi, dan bank.
Untuk mencapai swasembada gula, dilakukan melalui sejumlah tahapan. Pada 2009, area tanaman tebu diperluas menjadi 54.000 ha, dengan rendemen tujuh persen, sehingga menghasilkan gula 227.000 ton. Pada 2010, luas area ditambah menjadi 57.000 ha. Sehingga, dengan rendemen 5,89 persen, dapat menghasilkan gula 243.000 ton. Luasan lahan terus diperbanyak hingga tercapai 63.000 ha pada 2011. Dengan rendemen 7,5 persen, dihasilkan gula 330.000 ton. Pada 2012, area tanaman tebu ditarget menjadi 65.000 ha, dengan rendemen 7,7 persen, menghasilkan gula 365.000 ton. Jumlah lahan terus diperluas menjadi 67.000 ha pada 2013. Sehingga, dengan rendemen delapan persen, target swasembada gula dengan produksi 400.000 ton gula dapat terpenuhi.
Potensi
Berdasarkan potensi yang ada saat ini, Jawa Tengah memiliki 13 pabrik gula dengan kapasitas giling 35.780 ton tebu per hari. Namun demikian, area tebu yang tersedia hanya 63 ribu hektare, sehingga dengan produktivitas 70 ton per hektare, diprediksi menghasilkan 4,41 juta ton tebu. Jika rendemennya 7,5 persen, akan menghasilkan gula sebanyak 330 ribu ton. Sedangkan kebutuhan gula dengan asumsi jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 33,43 juta jiwa, dibutuhkan 361.000 ton gula, dengan demikian masih terjadi kekurangan 31.000 ton gula. Idealnya, untuk bisa menutup kekurangan gula 31.000 ton, perlu menambah area 4.000 hektare, dan penambahan pabrik baru dengan kapasitas giling 4.000 ton per hari.
Pendirian pabrik gula di Kabupaten Blora dan Kabupaten Purbalingga dengan kapasitas giling masing-masing 4.000 ton tebu per hari, membutuhkan perluasan area masing-masing 8.000 hektar, yang berarti akan meningkatkan lapangan kerja secara signifikan, karena akan menyerap tenaga kerja baru + 134.000 orang per tahun. Untuk itu, pendirian dua pabrik gula baru tersebut, perlu mendapatkan dukungan positif dari semua pihak. Apalagi, multiplier effect pembangunan pabrik tersebut, cukup tinggi. Tidak hanya melibatkan buruh pabrik dan buruh tani tebu, tetapi juga penjual makanan, pedang asongan, dan sebagainya.
Namun, sambil menunggu proses pembangunan dua pabrik gula yang baru dapat beroperasi pada 2013 itu, kami terus melakukan upaya perluasan lahan budidaya tebu. Idealnya, setiap satu pabrik gula, didukung 8.000 hektare lahan tebu. Sementara, sekarang ini dari 13 pabrik yang beroperasi baru didukung rata-rata 5.000 hektare per pabrik.
Penyediaan lahan area tebu yang baru, diupayakan tidak mengganggu swasembada beras, karena akan menggunakan lahan kering. Potensi yang ada saat ini, dari 724.000 hektare lahan kering di Jawa Tengah, yang cocok secara agroklimat untuk di tanami tebu seluas 171.000 hektare. Sehingga, jika perluasannya 30 persen dari lahan kering tersebut (+ 30.000 hektare), maka swasembada gula di Jawa Tengah 2013 akan terlampaui.
http://suaramerdeka.com, 18 Juli 2011
Pak Gubernur, sejauh mana upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan swasembada gula 2013? (Indra, Cilacap)
Jawab :
Terima kasih Saudara Indra. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus bertekad untuk dapat mewujudkan swasembada gula pada 2013 mendatang. Langkah efektif yang sedang dan terus dilakukan, antara lain, melakukan revitalisasi pabrik gula dan pembangunan pabrik gula baru, memperluas lahan untuk pengembangan tanaman tebu (ekstensfikasi), serta mendorong peran aktif masyarakat untuk menanam tebu.
Swasembada gula diartikan sebagai tercukupinya gula berbasis tebu minimal 90 persen dari kebutuhan konsumsi seluruh masyarakat di Jawa Tengah.
Kunci swasembada gula untuk tingkat nasional adalah jika tidak ada lagi impor gula. Sementara, di tingkat Jawa Tengah, swasembada gula tercapai jika tebu di Jawa Tengah mencukupi target total produksi sekitar 5 juta ton, sehingga dengan asumsi rendemen delapan persen, dapat dihasilkan gula tebu sebanyak 400.000 ton atau telah memenuhi kebutuhan gula masyarakat. Perhitungannya, jika penduduk Jawa Tengah 2013 diasumsikan berjumlah 37 juta jiwa dengan konsumsi gula perkapita = 12 kg/ tahun (sesuai rata- rata nasional), maka kebutuhan swasembada gula tebu = 0,9 x 12 kg x 37 juta = + 400.000 ton gula.
Untuk mewujudkan swasembada gula Jawa Tengah 2013, ada empat kunci yang mendukung keberhasilan, yaitu, stabilitas harga yang menguntungkan petani, hubungan yang harmonis antara petani dan pabrik gula, penataan varietas dan penggunaan benih bermutu dan penerapan teknis budidaya sesuai standar, serta revitalisasi pabrik dengan mengganti mesin yang telah rusak. Strategi yang harus ditempuh adalah mengedepankan harmonisasi dan sinergi pabrik gula, APTRI, KPTRI, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pabrikan sarana produksi, dan bank.
Untuk mencapai swasembada gula, dilakukan melalui sejumlah tahapan. Pada 2009, area tanaman tebu diperluas menjadi 54.000 ha, dengan rendemen tujuh persen, sehingga menghasilkan gula 227.000 ton. Pada 2010, luas area ditambah menjadi 57.000 ha. Sehingga, dengan rendemen 5,89 persen, dapat menghasilkan gula 243.000 ton. Luasan lahan terus diperbanyak hingga tercapai 63.000 ha pada 2011. Dengan rendemen 7,5 persen, dihasilkan gula 330.000 ton. Pada 2012, area tanaman tebu ditarget menjadi 65.000 ha, dengan rendemen 7,7 persen, menghasilkan gula 365.000 ton. Jumlah lahan terus diperluas menjadi 67.000 ha pada 2013. Sehingga, dengan rendemen delapan persen, target swasembada gula dengan produksi 400.000 ton gula dapat terpenuhi.
Potensi
Berdasarkan potensi yang ada saat ini, Jawa Tengah memiliki 13 pabrik gula dengan kapasitas giling 35.780 ton tebu per hari. Namun demikian, area tebu yang tersedia hanya 63 ribu hektare, sehingga dengan produktivitas 70 ton per hektare, diprediksi menghasilkan 4,41 juta ton tebu. Jika rendemennya 7,5 persen, akan menghasilkan gula sebanyak 330 ribu ton. Sedangkan kebutuhan gula dengan asumsi jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 33,43 juta jiwa, dibutuhkan 361.000 ton gula, dengan demikian masih terjadi kekurangan 31.000 ton gula. Idealnya, untuk bisa menutup kekurangan gula 31.000 ton, perlu menambah area 4.000 hektare, dan penambahan pabrik baru dengan kapasitas giling 4.000 ton per hari.
Pendirian pabrik gula di Kabupaten Blora dan Kabupaten Purbalingga dengan kapasitas giling masing-masing 4.000 ton tebu per hari, membutuhkan perluasan area masing-masing 8.000 hektar, yang berarti akan meningkatkan lapangan kerja secara signifikan, karena akan menyerap tenaga kerja baru + 134.000 orang per tahun. Untuk itu, pendirian dua pabrik gula baru tersebut, perlu mendapatkan dukungan positif dari semua pihak. Apalagi, multiplier effect pembangunan pabrik tersebut, cukup tinggi. Tidak hanya melibatkan buruh pabrik dan buruh tani tebu, tetapi juga penjual makanan, pedang asongan, dan sebagainya.
Namun, sambil menunggu proses pembangunan dua pabrik gula yang baru dapat beroperasi pada 2013 itu, kami terus melakukan upaya perluasan lahan budidaya tebu. Idealnya, setiap satu pabrik gula, didukung 8.000 hektare lahan tebu. Sementara, sekarang ini dari 13 pabrik yang beroperasi baru didukung rata-rata 5.000 hektare per pabrik.
Penyediaan lahan area tebu yang baru, diupayakan tidak mengganggu swasembada beras, karena akan menggunakan lahan kering. Potensi yang ada saat ini, dari 724.000 hektare lahan kering di Jawa Tengah, yang cocok secara agroklimat untuk di tanami tebu seluas 171.000 hektare. Sehingga, jika perluasannya 30 persen dari lahan kering tersebut (+ 30.000 hektare), maka swasembada gula di Jawa Tengah 2013 akan terlampaui.
http://suaramerdeka.com, 18 Juli 2011
No comments:
Post a Comment