Tuesday, August 2, 2011

Benahi Kebijakan Pangan Nasional

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah diminta segera bertindak membenahi kebijakan pangan nasional. Langkah ini perlu karena kenaikan harga bahan pokok menjadi faktor utama pendorong inflasi umum. Inflasi umum Juli 2011 sebesar 0,67 persen dengan laju inflasi tahunan sebesar 4,61 persen.

Ekonom dari Econit Advisory Group, Hendri Saparini, di Jakarta, Senin (1/8/2011), mengemukakan, laju inflasi Januari-Juli 2011 tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, yakni 4,02 persen. Namun, laju inflasi yang relatif rendah tidak menjamin peningkatan daya beli masyarakat, terutama menengah bawah.

Hal itu karena komponen bahan pokok menjadi penyumbang terbesar inflasi. Harga pangan yang terus meningkat dikhawatirkan semakin membebani rakyat miskin yang menghabiskan 73 persen dari total konsumsi untuk bahan pokok.

Hendri mengemukakan, pemerintah perlu memperbaiki manajemen stok pangan, khususnya beras, jika ingin menghindari berulangnya masalah stok dan harga beras setiap tahun. Apalagi, panen beras pada bulan Oktober 2011 diperkirakan tidak akan optimal. Sawah di sejumlah wilayah terkena hama wereng.

Kebijakan pangan saat ini terbukti tidak mampu mencegah harga beras merambat naik. Produksi beras nasional juga tidak mampu mencukupi kebutuhan Bulog. Bulog kesulitan menyerap beras petani karena harga jualnya melampaui harga pembelian pemerintah (HPP) beras.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/02/06071461/Benahi.Kebijakan.Pangan.Nasional
2 Agustus 2011

Wednesday, July 20, 2011

Antara Museum Kretek dan Kudus Kota Kretek


Mencari Museum Kretek, yang terletak di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, cukup mudah. Ketika memasuki wilayah administrasi Kabupaten Kudus dari arah Semarang, yaitu di perbatasan Kudus-Demak, tinggal mengikuti jalan raya-lurus ke depan sejauh sekitar dua kilometer.

Lalu ketika tiba di Kantor PLN Cabang Kudus, berbelok ke kanan sejauh 150 meter—tembus perempatan jalan. Nah di pojok perempatan itulah, Museum Kretek yang bangunannya berbentuk joglo—khas Jawa berada.

Museum yang konon satu-satunya di dunia, dibangun secara bertahap dengan peletakan batu pertama Gubernur Jawa Tengah, Ismail, 11 Desember 1984. Diresmikan Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam pada 3 Oktober 1986, dengan biaya patungan dari Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) dengan Pemerintah Kabupaten Kudus.

Disebut sebagai museum kretek satu-satunya di dunia karena sejarah rokok kretek di Indonesia cikal-bakalnya berasal dari Kudus. Penemunya, menurut buku biografi singkat M Nitisemito, disebut Haji Djamhari, tetapi Ketua MUI, menyebut Haji Jamari, ada lagi yang menulis Jamahri dan Jumahri. Memang mirip satu sama lain, tetapi ke depan alangkah baiknya jika penulisan itu disepakati satu nama saja.

Meski ia sebagai penemu, tetapi justru Nitisemito, putra bungsu Haji Soelaeman, yang menjabat sebagai Lurah Desa Janggalan Kota Kudus, yang tercatat sebagai orang pertama yang mampu memproduksi rokok kretek dan mengembangkannya menjadi industri serta akhirnya dikenal sebagai Raja Kretek Indonesia.

Mengingat Haji Djamhari (menggunakan nama dari buku biografi singkat M Nitisemito), maka menurut pemerhati budaya asal Kudus, Djoko Herryanto, lahirnya industri rokok kretek Kudus pada 1870-1880.

Sedang Raja Kretek yang lahir 1863, baru membuka warungnya di sebelah barat sungai Gelis dan menjual rokok produksinya sendiri pada 1906. Rokok itu terbuat dari campuran tembakau dan cengkeh, dengan pembungkus daun jagung muda (klobot).

Seiring dengan kehadiran Haji Djamhari, Nitisemito, kemudian muncullah perusahaan rokok skala rumah tangga bagai jamur di musim hujan di Kudus, terutama di Kudus Kulon (Kota Kudus di sebelah barat Sungai Gelis).

Sejarah Haji Djamhari dan Nitisemito, hingga perkembangan industri rokok kretek di Kudus menjelang awal Oktober 1986 (termasuk berbagai benda bersejarah dari mesin tik, alat pemroses rokok tradisional, foto-foto, dan sebagainya) itulah yang menjadi inti dari isi Museum Kretek.

Guna menambah daya pikat pengunjung, di samping kiri museum agak ke depan didirikan rumah adat Kudus, meski tidak sebagus dan selengkap rumah adat Kudus yang dimiliki puluhan warga.

Selain masih dijumpai banyak kekurangan, tetapi menurut Djoko Herryanto, kehadiran Museum Kretek, mempertegas Kudus Kota Kretek. Ini bisa disejajarkan dengan Jakarta Kota Metropolitan, Jogjakarta Kota Pelajar, Pekalongan Kota Batik. Namun masih dibutuhkan perjuangan warga Kudus, pengusaha rokok, akademisi, dan Pemkab Kudus untuk membentuk image bahwa Kudus Kota Kretek mempunyai nilai strategis untuk mengangkat nama Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Ia menambahkan, bila pengakuan resmi tingkat daerah, nasional, dan internasional mampu diwujudkan dalam bentuk simbiosis yang sempurna antara de jure dan de facto, tentulah akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bahwa di sinilah, di negeri Indonesia, budaya kretek kali pertama muncul. Semoga.

Pernyataan Sikap Buruh Tani Perempuan dalam Aksi Mogok Makan Tolak RUU/RPP Tembakau

Sejak hari kamis (7/7), 25 orang buruh tani perempuan dan istri petani tembakau dari berbagai kecamatan di kabupaten Temanggung melakukan aksi mogok makan di sekretariat Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) setempat. Pada hari minggu (10/10), mereka datang ke Jakarta untuk melanjutkan aksi mogok makan menentang RUU/RPP pengendalian dampak produk tembakau untuk kesehatan. Aksi mogok makan di Jakarta akan dilakukan selama 3 hari sampai dengan hari Rabu (13/7) di Gedung DPR RI. Aksi para petani perempuan itu diterima di Jakarta dan di dukung oleh beberapa organisasi masyarakat, antara lain: Komunitas Kretek, Kelompok Pedagang Asongan Jakarta, Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) yang tergabung dalam Koalisi Nasional Penyelamat Kretek (KNPK).

Berikut pernyataan sikap mereka:

STATEMENT AKSI MOGOK MAKAN
PETANI PEREMPUAN TEMBAKAU TEMANGGUNG
“TOLAK REGULASI TEMBAKAU, SELAMATKAN DAPUR RAKYAT”

Jakarta, 10-13 Juli 2011

Kembali kami mendatangi Jakarta, bukan karena kami kagum dengan sekian bangunan megahnya. Kedatangan kami seperti hari-hari yang lalu, berbondong-bondong dari desa ke ibu kota untuk menuntut keadilan.

Kedatangan kami ke Jakarta ini dikarenakan pemerintah lagi-lagi melakukan sikap yang keblinger dan salah kaprah (Baca:menyimpang dan salah semua) merugikan rakyatnya. Rencana pembuatan kebijakan mengenai tembakau menjadi alasan dasar kami untuk berjuang kembali melawan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah. Pasalnya regulasi tembakau ini akan membawa dampak bagi banyak kalangan masyarakat (Baca: petani tembakau, buruh rokok, pedagang dan lain-lain). Dari sekian
dampak yang akan di tanggung oleh masyarakat atas regulalsi tembakau yang saat ini sedang dalam proses akan berujung pada keberlangsungan kepulan asap dapur masyarakat.

Kali ini kami telah bertekad untuk melakukan aksi mogok makan di Jakarta. Aksi mogok makan ini akan kami laksanakan pada tanggal 11-13 Juli 2011 di depan DPR RI. Aksi mogok makan ini merupakan aksi lanjutan dari aksi mogok makan yang telah kami lakukan sejak tanggal 8 Juli 2011 di Kabupaten Temanggung. Aksi mogok makan ini memang menjadi pilihan sadar kami, pasalnya memang kami mendapat ancaman atas regulasi tembakau yang saat ini sedang dalam proses.

Temanggung yang berada di provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu pusat Tembakau yang sangat besar. Bisa dikatakan Temanggung adalah central Tembakaunya Jawa Tengah. Terdapat 14 Kecamatan dari 20 Kecamatan di Kabupaten Temanggung ini yang menjadi central budidaya tembakau. Data Dinas Perkebunan Temanggung mengatakan bahwa
luasan lahan tembakau di Kabupaten Temanggung mencapai 15.000 Ha dan lahan dengan luasan tersebut terdapat 48.000 Kepala Keluarga (KK). Selain itu, cuaca dan geografis Temanggung sangat mendukung mengingat Temanggung berada di lereng 3 Gunung (Baca: Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau).

Regulasi tembakau yang salah satunya akan menghantam ruang ekonomi petani tembakau menjadikan kami gerah dan terpaksa untuk melakukan aksi mogok makan demi menyelamatkan ruang ekonomi keluarga kami. Sehingga dengan terselamatkannya ruang ekonomi kami,
kami bisa tetap memasakkan anak-anak kami, keluarga kami dan bisa terus melangsungkan kehidupan. Maka dari itu demi melangsungkan kehidupan kami dan masyarakat lainnya dari ancaman regulasi tembakau ini, kami Petani Perempuan Tembakau Kabupaten Temanggung melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk penolakan tegas kami terhadap regulasi yang saat ini sedang dalam proses, baik RUU maupun RPP mengenai tembakau.

Selain itu kami juga menuntut kepada pemerintah untuk :
1. Membatalkan RUU & RPP Mengenai Tembakau yang mengancam kesejahteraan rakyat Indonesia.
2. Melepaskan diri dari ketergantungan dan pendiktean politik yang dilakukan oleh negara asing dan pemodal asing.
3. STOP Pelanggaran Konstitusi, kembali ke Konstitusi Negara UUD’45.
4. Bangun Jaring Keamanan Produksi Petani dan Hak-hak Petani.


Jakarta, 10 Juli 2011
Tertanda
Koordinator Aksi Mogok Makan

Dina Hariyanti

http://komunitaskretek.or.id. 10 Juli 2011

AREAL TEMBAKAU LOMBOK TIMUR TURUN 10 PERSEN

Lombok Timur, NTB 13/7(ANTARA)- Luas areal tanam tembakau virgnia di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat tahun 2011 sekitar 16.000 hingga 17.000 hektare, turun sekitar 10 persen dari tahun 2010 mencapai 18.000 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Lombok Timur Framadi AK di Selong, Rabu, mengatakan, berkurangnya luas areal tanam tembakau tahun 2011 ini disebabkan berbagai faktor, antara lain karena cuaca kurang bersahabat, kurangnya modal petani dan petani masih belum selesai memanen padi di sawah.

Ia mengatakan, pada musim tanam 2010 luas areal tanam tembakau virginia mencapai 18.000 ha yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur bagian selatan, tengah dan bagian utara.

Ia mengatakan, penurunan areal tanam tembakau virginia tersebut terluas di wilayah Lombok Timur bagian utara yang mencapai 30 persen, yakni di Kecamatan Aikmel, Wanasaba, Pringgabaya, Suele, Sambelia, Terara, Sikur, dan Kecamatan Montong Gading.

Sementara di Kabupaten Lombok Timur bagian tengah mengalami pengurangan sekitar lima persen, meliputi Kecamatan Selong, Masbagik, Pringgesela, Masbagik, Sukamulia, Suralaga dan Kecamatan Labuhan Haji.

Luas areal tenaman tembakau virginia di wilayah Lombok Timur bagian selatan justru mengalami peningkatan yang mencapai 20 hingga 30 persen, yakni di wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Barat, Sakra Timur, Keruak, dan Kecamatan Jerowaru.

"Memang pada musim tanam pada tahun 2010 untuk wilayah Lombok Timur bagian selatan relatif kurang, tetapi pada 2011 ini justru petani lebih antusias menanam tembakau virginia," ujar Framadi.

Ia mengatakan, sudah banyak petani yang mulai menanam tembakau virginia sejak bulan Mei 2011, terutama petani tembakau yang berada di wilayah selatan.

Sementara petani di wilayah tengah dan utara ada sebagian belum mulai menanam. Mereka masih menunggu cuaca apakah mendukung ataukah tidak untuk mulai menanam tembakau.

"Memang tahun 2011 ini musim tanam tembakau mengalami kelambatan karena faktor cuaca yang kurang bersahabat, karena itu petani menunggu cuaca lebi baik baru mulai menanam terbakau," kata Framadi.

www.antaramataram.com, 13 Juli 2011